aneka.produk

jual/sewa.properti

kontak.person

Bpk Stephanus B
(031) 594 1994, 081938295459,
(031) 70 17 1996
ephanus@yahoo.com
Apabila anda memiliki ide2, artikel, informasi, ataupun produk yang ingin anda tampilkan di website ini, silahkan email ke ephanus@yahoo.com
Kirimkan saran dan kritik anda untuk website ini ke alamat admin@sungaibaru.com

Database status:

Total Artikel: 97
Total Komentar: 1161
Klik untuk memberi makan kura2 =p

Artikel - Etos Kerja Orang Jepang

Kategori: Lain
Lihat komentar

Etos Kerja Orang Jepang

Tulisan ini tidak bertutur tentang legenda Bangsa Samurai dahulu kala; namun berkisah tentang Jepang saat ini. Dongeng di sini berarti sesuatu yang mengherankan bila disandingkan dengan kondisi keseharian di tanah air. Meski Jepang bukanlah negeri dongeng yang sempurna, ada nilai-nilai kebaikan universal terealisir yang menarik untuk disimak dan diaplikasikan di tanah air tercinta.

Tulisan ini merupakan fragmentasi keseharian saya, istri, dan beberapa kawan dekat kami di Jepang.

Kantor pemerintahan dan pelayanan publik

Anda pernah melihat sekelompok semut? Nah, begitulah kira-kira situasi kantor pemerintahan daerah di Jepang. Tidak ada "semut" yang diam termangu, apalagi membaca koran; seluruh karyawan kantor senantiasa bergerak, dari saat bel mulai kerja hingga pulang larut malam.

Tak habis pikir, saya tatap dalam-dalam "semut-semut" yang sedang bekerja tersebut; kadang kala saya curi pandang: jangan - jangan mereka sedang ber-internet ria seperti kebiasaan saya di kampus. Ingin saya mengetahui makanan apa gerangan yang dikonsumsi para pegawai itu sehingga mereka sanggup berjam-jam duduk, berkonsentrasi, dan menatap monitor yang bentuknya tidak berubah tersebut.

Tata ruang kantor khas Jepang: mulai pimpinan hingga staf teknis duduk pada satu ruangan yang sama - tanpa sekat; semua bisa melihat bahwa semuanya bekerja. Satu orang membaca koran, pasti akan ketahuan. Aksi yang bagi saya dramatis ini masih ditambah lagi dengan aksi lari-lari dari pimpinan ataupun staf dalam melayani masyarakat.

Ya, mereka berlari dalam arti yang sesungguhnya dan ekspresi pelayanan yang sama seriusnya. Wajah mereka akan menatap anda dalam - dalam dengan pola serius utuh diselingi dengan senyuman. Saya hampir tak percaya dengan perkataan kawan saya yang mempelajari system pemerintahan Jepang, bahwa gaji mereka - para "semut" tersebut - tidak bisa dikatakan berlebihan. Sesuai dengan standard upah di Jepang. Yang saya baca di internet, mereka memiliki kebanggaan berprofesi sebagai abdi negara; kebanggaan yang menutupi penghasilan yang tidak berbeda dengan profesi yang lain.

Menyandang status mahasiswa, saya mendapatkan banyak kemudahan dan fasilitas dari Pemerintah Jepang. Untuk mengurus berbagai keringanan tersebut, saya harus mendatangi kantor kecamatan (kuyakusho) atau walikota (shiyakusho) setempat. Beberapa dokumen harus diisi; khas Jepang: teliti namun tidak menyulitkan. Dalam berbagai kesempatan saya harus mengisi kolom semacam: apakah anda melakukan pekerjaan sambilan (arubaito = part time job), apakah anak anda tinggal bersama anda (untuk mengurus tunjangan anak), dsb. Dan dalam banyak hal, pertanyaan - pertanyaan tersebut cukup dijawab dengan lisan: ya atau tidak. Tidak perlu surat - surat pembuktian dari "RT, RW, Kelurahan" dsb. Saya percaya bahwa sistem yang baik selalu mensyaratkan kejujuran.

Sistem berlandaskan kejujuran akan cepat maju dan meningkat, sekaligus sangat efisien. Mengetahui bahwasanya saya adalah orang asing yang kurang lancar berbahasa Jepang, saya mendapatkan "fasilitas" diantar kesana-kemari pada saat mengurus berbagai dokumen untuk mengajukan keringanan biaya melahirkan istri saya. Hal ini terjadi beberapa kali. Seorang senior saya pernah mengatakan, begitu anda masuk ke kantor pemerintahan di Jepang, maka semua urusan akan ada (dan harus ada) solusinya. Lain hari saya membaca prinsip "the biggest (service) for the small" yang kurang lebih bermakna pelayanan dan perhatian yang maksimal untuk orang - orang yang kurang beruntung.

Pameo "kalau ada yang sulit, mengapa dipermudah" tidak saya jumpai di Jepang. Pada suatu urusan di kantor walikota (shiyakusho) saya diminta untuk menyerahkan surat pajak penghasilan. Saya mengatakan bahwa saya sudah pernah, di masa yang lalu, menyerahkan surat yang sama ke bagian lain di kantor tersebut. Saya sudah siap dan pasrah seandainya mereka menjawab bahwa saya harus mengurus kembali surat tersebut ke kantor kecamatan sebelum saya pindah ke kota ini. Agak tertegun sekaligus lega mendapat jawaban bahwa staf divisi tersebut akan mendatangi divisi lain tempat saya pernah menyerahkan dokumen pajak saya sekian bulan yang lalu. Dia akan mengkopinya dari sana.

Ambil jalan yang mudah, namun tetap mengedepankan ketelitian. Itulah yang saya jumpai di Jepang.

Berstatus mahasiswa yang berkeluarga (baca: harus berhemat), kami sempat terkejut melihat tagihan listrik bulanan yang melonjak hingga 10 kali lipat.

Setelah melakukan pengusutan sederhana, tahulah kami bahwa ada kesalahan pencatatan meter listrik oleh petugas. Sebuah kesalahan yang tidak umum di negeri ini. Segera saat itu pula saya telpon perusaah listrik wilayah Kansai untuk mengkonfirmasikan kesalahan tersebut. Berkali - kali kata sumimasen (yang bisa pula berarti maaf) keluar dari mulut operator telepon. Saya menganggapnya sudah selesai, karena operator berjanji untuk segera melakukan tindak lanjut. Belum berapa lama meletakkan tas di laboratorium pagi itu, istri menelpon dari rumah perihal kedatangan petugas listrik untuk meminta maaf dan menarik slip tagihan. Setibanya di rumah malam harinya, baru tahulah saya bahwa yang datang bukanlah sekelas petugas lapangan (dari kartu nama yang ditinggalkannya) dan tahulah saya bahwa dia tidak sekedar meminta maaf, karena bingkisan berisi sabun dan shampo merk cukup terkenal menyertai kartu nama petugas tersebut. Saya hanya berharap, waktu itu, bahwa petugas pencatat yang keliru tidak akan bunuh diri. Karena kekeliruan dalam bekerja, secara umum, menyangkut kehormatan di Negara ini.

Saya mengetahui dari sebuah perusahaan penyalur tenaga kerja di Jepang akan sebuah paradigma "Bila anda datang ke kantor pada pukul 09.00 (jam resmi masuk kantor di Jepang) dan pulang pada pukul 17.00 (jam resmi pulang kantor di Jepang), maka atasan dan kawan - kawan anda akan mengatakan bahwa anda tidak memiliki niat bekerja". Saya membuktikan pameo tersebut, karena setiap hari saya bersepeda melintasi kantor walikota (shiyakusho). Sebagian besar lampu di kantor itu masih menyala hingga pukul 20.00. Dan beberapa kali saya jumpai staf kantor tersebut memasuki stasiun kereta, juga sekitar pukul 20.00. Hal ini berarti, mereka semua memiliki niat bekerja - versi Jepang.

Pasar, pertunjukan kejujuran dan perhatian

Suatu kali pernah kami membeli sebungkus buah - buahan dengan bandrol murah; favorit bagi kalangan mahasiswa asing seperti saya. Saya sudah mengetahui bahwa ada sedikit cacat (gores atau bekas benturan) pada permukaan beberapa buah - buahan - sesuai dengan harga murah yang disematkan padanya. Pada saat kami hendak membayar buah tersebut, penjual buah buru-buru menerangkan dan menunjuk-nunjuk kondisi sedikit cacat pada beberapa buah-buahan tersebut, dan kembali memastikan niat kami membeli nya. Sembari tersenyum, tentu saja kami mengatakan "daijobu" (tidak apa-apa), karena kami sudah melihatnya dari awal. Beberapa kawan kami mengiyakan pada saat kami menceritakan kejadian yang bagi kami cukup mengherankan ini; ini berarti sikap jujur tersebut tidak dimonopoli oleh satu-dua pedagang. Mereka mengerti betul bahwa kejujuran adalah prasyarat utama keberhasilan dalam berdagang. Tidak perlu meraup untung sesaat dalam jumlah besar, bila nantinya akan kehilangan pelanggan.

Hingga hari ini, pada saat bertransaksi di kasir, kami selalu menerima uang kembalian dalam jumlah yang utuh - sesuai dengan yang tertera pada slip pembayaran. Tidak kurang, meski hanya satu yen (mata uang terkecil di Jepang). Tidak ada "pemaksaan" untuk menerima permen sebagai pengganti nominal tertentu. Selain kagum dengan praktek berdagang yang baik ini, kami sekaligus kagum dengan sistem perbankan Jepang yang mampu menyediakan uang recehan untuk pedagang dan vending machine (mesin penjual otomatis) di se-antero Jepang. Meski bagi sebagian kalangan, uang kembalian terlihat "sepele"; hal ini bisa menyebabkan ketidakikhlasan pembeli terhadap transaksi jual-beli .

Istri saya selalu berbelanja bersama anak-anak; dan karena "keriangan" anak-anak, pada beberapa kasus, pak telur atau buah - buahan bisa meluncur ke lantai. Dua kali terjadi beberapa telur dalam satu pak pecah akibat keriangan anak-anak, dan satu kali melibatkan buah yang mudah penyok. Pada semua kejadian tersebut, petugas supermarket melihat dan segera mengganti barang - barang tersebut dengan yang baru. Padahal kami datang dengan wajah lelah dan pasrah untuk membayarnya, karena kami menyadari benar bahwa ini adalah kelalaian kami. Bahkan pada satu kasus, barang tersebut sudah dibayar istri saya. Pada saat kami menerangkan bahwa ini semua ketidaksengajaan anak - anak kami, dengan ramah petugas supermarket menyahut "daijobu yo" (tidak apa-apa).

Pada saat berkesempatan mengunjungi sebuah negara lain di Asia untuk sebuah konferensi, saya baru menyadari keramahtamahan petugas supermarket di Jepang. Di Jepang, bila anda menanyakan keberadaan sebuah barang, maka petugas tidak sekedar memberi arah petunjuk pada anda, namun dia akan mengantarkan anda hingga berjumpa dengan barang yang dicari; dan petugas baru akan meninggalkan anda setelah memastikan bahwa everything is ok. Hal ini tidak berarti bahwa jumlah petugas supermarket di Jepang demikian banyaknya hingga mereka berkesempatan jalan-jalan di dalam supermarket yang sangat besar; justru sebaliknya, jumlah petugas selalu sesuai benar dengan kebutuhan, dan mereka selalu bergerak - seperti semut. Di sebuah toko elektronik, seorang petugas yang menjelaskan spesifikasi komputer yang anda tanyai adalah juga kasir tempat anda membayar serta petugas yang melakukan packing akhir terhadap komputer yang anda beli .

Polisi, sistem yang bekerja dan melindungi

Kami sempat terheran - heran manakala pertama menginjakkan kaki di Kobe demi melihat postur polisi dan kendaraannya yang tidak lebih gagah dibandingkan dengan petugas pos di Indonesia . Benar, ini bukan metafora. Memang ada pula polisi di tingkat prefecture (propinsi) yang gagah mengendarai motor besar bak Chip - ini jumlahnya sedikit. Namun polisi kota besar seukuran Kobe - salah satu kota metropolis di Jepang, posturnya tidak segagah polisi yang sering saya jumpai di jalan-jalan Republik. Anda tentu menganggap saya sedang bergurau bila saya mengatakan bahwa motor polisi di Kota Kobe dan Ashiya serupa benar dengan bebek terbang tahun 70-an. Saya tidak bergurau. Ini Kobe dan Ashiya, dua kota di negara macan ekonomi dunia. Bebek terbang tersebut dilengkapi dengan boks besi di bagian belakang - mirip dengan petugas pengantaran barang kiriman. Namun, sekali bapak atau mbak polisi ini menghentikan kendaraan, tidak pernah saya melihat ada diantaranya yang berusaha lari. Tidak ada gunanya lari di negara dengan sistem network yang sangat baik ini. Ke mana pun anda lari, kesitu pula polisi dengan uniform yang serupa akan menghampiri anda. Pelan namun pasti. Saya akhirnya mafhum, bahwa polisi di sini lebih pada fungsi kontrol dan pengambilan keputusan (decision maker) - kedua fungsi ini memang tidak mensyaratkan badan yang harus berotot dan berisi. Tak heran saya melihat mas - mas polisi muda berkacamata melakukan patroli dengan bebek terbangnya. Mereka hanya perlu melihat, mengawasi, dan mengambil keputusan. Selebihnya, sistem yang akan bekerja.

Lingkungan hidup dan transportasi

Jepang bukanlah negara dengan penduduk kecil. Populasi negara ini hampir separuh populasi Republik tercinta. Di sisi lain, wilayah negara ini didominasi oleh pegunungan yang sulit untuk dihuni. Pegunungan yang tetap hijau, membuat saya menduga bahwa Pemerintah Jepang memang sengaja membiarkan kehijauan melekat pada daerah pegunungan tersebut. Tokyo adalah kota besar dengan jumlah penduduk terbesar se-dunia, mengalahkan New York dan berbagai kota besar di mancanegara. Besarnya penduduk, sempitnya dataran yang bisa dihuni, dan tingginya tingkat ekonomi mensiratkan dua hal: kerapian dan kebersihan. Anda akan sangat kesulitan menjumpai sampah anthrophogenik (akibat aktivitas manusia) di jalan- jalan di Jepang. Kemana mata anda memandang, maka kesitulah anda akan tertumbuk pada situasi yang bersih dan rapi. Orang Jepang meletakkan sepatu /alas kaki dengan tangan, bukan dengan kaki ataupun dilempar begitu saja. Mereka menyadari bahwa ruang (space) yang mereka miliki tidak luas, sehingga semuanya harus rapi dan tertata. Sepatu dan alas kaki diletakkan dengan posisi yang siap untuk digunakan pada saat kita keluar ruangan. Hal ini sesuai dengan karakteristik mereka yang senantiasa well-prepared dalam berbagai hal. Kadang saya menjumpai kondisi yang ekstrim; seorang pasien yang sedang menunggu giliran di depan saya berbicara dan menggerakkan anggota tubuhnya sendiri. Saya tahu bahwa ruang periksa di hadapan kami bukan ditempati psikiater ataupun neurophysicist. Belakangan saya tahu dari kawan yang belajar di bidang kedokteran, boleh jadi pasien tersebut sedang mempersiapkan dialog dengan dokternya.

Transportasi di Jepang didominasi oleh angkutan publik, baik bus, kereta (lokal, ekspres, super ekspres), shinkansen, dan pesawat terbang (antar wilayah). Baiknya sistem dan sarana transportasi di Jepang membuat anda tidak perlu berkeinginan untuk memiliki kendaraan sendiri - kecuali bila anda tinggal di country-side yang tidak memiliki banyak alat transportasi umum. Kereta dan shinkansen (kereta antar kota super ekspres) mendominasi moda transportasi di Jepang. Sebuah sumber yang saya ingat menyebutkan bahwa kepadatan lalu lintas kereta di Jepang adalah yang tertinggi di dunia. Di Jepang, kereta dan shinkansen digerakkan menggunakan listrik. Hal ini tidak menyebabkan polusi udara di perkotaan, karena listrik diproduksi terpusat. PLTN sebagai salah satu sumber pemasok utama energi listrik di Jepang, tentu saja, juga berkontribusi pada rendahnya polusi udara karena, praktis PLTN tidak mengemisikan CO2.

Nasehat "tengoklah duru kiri dan kanan sebelum menyeberang jalan" mungkin tidak sangat penting untuk diterapkan bila anda menyeberang di tempat yang telah disediakan di Jepang. Anda cukup menunggu lambang pejalan kaki berubah warna menjadi hijau; insya Allah anda akan selamat sampai ke seberang - tanpa perlu menengok kiri dan kanan. Saat berkesempatan mengunjungi kota besar lain di Asia, kebiasaan menyeberang ala Jepang sempat membuat saya hampir terserempet motor; lampu hijau saja ternyata tidaklah cukup di kota ini.

Kesehatan dan rumah sakit

Jepang mengerti benar bahwa orang-orang yang sehatlah yang lebih mampu memajukan bangsa dan negaranya. Mahasiswa di tempat saya belajar, Kobe University , wajib melakukan pemeriksaan kesehatan (gratis) setahun sekali. Fasilitas kesehatan di Jepang mendapat perhatian yang tinggi dari pemerintah. Sebagai orang asing, mahasiswa pula, kami dianjurkan untuk mengikuti program asuransi nasional. Dengan mengikuti program ini, kami hanya perlu membayar 30% dari biaya berobat.

Dari yang 30% tersebut, sebagai mahasiswa asing, saya akan mendapatkan tambahan potongan sebesar 80% (yang belakangan turun menjadi 35%) dari Kementrian Pendidikan Jepang. Berstatuskan mahasiswa, kami membayar premi asuransi per-bulan yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan orang kebanyakan. Dari laporan rutin yang dikirimkan oleh pihak asuransi kepada kami, tahulah saya bahwa ongkos berobat kami selalu (jauh) lebih besar dari premi asuransi yang saya bayarkan setiap bulannya. Berbekal kartu asuransi nasional, datang ke rumah sakit ataupun ke klinik swasta bukan lagi menjadi hal yang menakutkan bagi keluarga kami di Jepang. Jangan membayangkan bahwa pihak rumah sakit atau klinik swasta akan memberikan perlakuan yang berbeda kepada para pemegang kartu asuransi - apalagi untuk kami yang mendapatkan kartu tambahan khusus keluarga tidak mampu. Para dokter dan perawat melayani dengan keramahan yang tidak berkurang serta prosedur yang sama sederhananya. Keramahan di sini berarti keramahan yang sebenar - benarnya. Baik anda kaya ataupun miskin, proses masuk dan keluar dari rumah sakit di Jepang adalah sama mudahnya.

Saat istri melahirkan di rumah sakit pemerintah di Ashiya, saya disodori formulir yang berisi opsi pembayaran: tunai, lewat bank, dll. Tidak menjadi sebuah keharusan bagi seorang pasien untuk menyelesaikan kewajiban pembayaran di hari dia harus keluar dari rumah sakit. Kami mendapatkan keringanan biaya melahirkan dari Pemerintah Kota Ashiya; selain bisa melenggang dari rumah sakit tanpa bayar pada hari itu, tagihan dari Kantor Walikota (setelah dipotong subsidi dari pemerintah) juga baru datang dua bulan kemudian.

Saling percaya adalah kuncinya.

Sumber: Yuli Setyo Indartono. Mahasiswa S3 di Graduate School
Timestamp: 2008-03-02 21:48:17
Views: 16310

Lihat artikel lainnya

Komentar mengenai artikel ini

Iri deh..

Komentar: jadi iri gw ma keadaan di Jepang sana yg serba rapi dan teratur.. kejujuran, keramahan, keamanan.. sesuatu yg jauh bgt dari kondisi Indonesia tercinta kita.. kapan ya bisa kek gitu?

Nama: San
Waktu: 2008-03-15 01:30:23

jadi pengen

Komentar: pengeeeeen bgt ke jepang... menyaksikan sendiri kedisiplinan, keramahan, dan semangat mereka untuk melakukan yang terbaik. kapan ya bisa terwujud? ke jepang kan mahal, syaratnya banyak... hu sedihnya

Nama: robby
Waktu: 2008-05-03 19:40:28

rindu bgt Indo bisa mencontoh teladan jjepang

Komentar: weeew....aga iri melihat cerita di atas....kapaaaaaaaaannnnn Indonesia bisa jadi seperti itu? kapan kita bisa maju? hmmmm.....at least, jauh2 ke Jepang mending Indo boleh meniru sedikit dr negara tetangga, malaysia, yang uda jauh lebih berkembang tentang sgala hal.....tetap smangat Indonesia!!! qta pasti bisa ^ ^

Nama: yuN
Waktu: 2008-05-20 18:49:56

hidup indonesia

Komentar: Indonesia bisa....asalkan ada kemauan tiap individu untuk berubah....tapi....sebenarnya emang kita bisa or tidak... aku juga sangsi...karena aku sendiri tidak disiplin... he..he

Nama: liNa
Waktu: 2008-06-19 12:27:06

Saluut

Komentar: saluut ma orang Japanesse Indonesia harusnya bangga di jajah sama bangsa maju. Biarpun memang ada sisi kekerasannya, dan keburukan di dlmnya setidaknya Bangsa kolonial telah meninggalkan sesuatu yg bisa bermanfaat bwat bangsa ini. Tapi sayang sih msh terus dijajah dgn kebodohan kita sendiri. :) he3x

Nama: Tato'
Waktu: 2008-10-13 21:37:58

Tak Ada Kata Terlambat

Komentar: "Subhanallah" merupakan ucapan yang seharusnya kita ucapkan! Luar Biasa memang Jepang dengan segala kelebihannya. Seharusnya kita dapat belajar dari Jepang yang SDA (Sumber Daya Alam) sangat sedikit ditambah dengan Bencana Alam (Tsunami, Gempa Bumi, Angin, dll) yang sering melanda negara ini bisa membuat mereka menjadi negara termaju di dunia. Iri dalam hati tidak mungkin bisa dipungkiri, iri seiri-irinya? hehe. Tapi jadikanlah iri ini menjadi Bara Api yang membakar semangat bangsa indonesia (Generasi Muda khususnya) untuk melakukan perubahan besar kepada bangsa kita ini. kapan? Sekarang adalah kata-kata yang paling tepat untuk menjawab semua keirian kita terhadap Jepang. Ayo kita sama-sama benahi indonesia, Tak Ada Kata Terlambat!

Nama: FARIS
Waktu: 2009-01-01 18:11:51

Jepang

Komentar: Kapan Indonesiaku spt itu, apa hrs d.jajah jepang lg... Agar PNS2-nya tdk bnyk ngrumpi dan kongkow2 doang, dan jd lbh ramah pd masyarakat.

Nama: Anonymous
Waktu: 2009-01-12 14:35:38

jjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjj

Komentar: saya sebagai warga indonesia yang saya cintai ini, saya berharap permerintah indonesia, bisa merubah negara ini menjadi negara yang lebih maju. dan jga bkan presiden saja yang harus memajukan negara ini tapi semua warga indonesia harus menyatukan jiwa raga kita untuk negara ini

Nama: vyan
Waktu: 2009-11-04 21:06:40

No Subject

Komentar: ..Sistem berlandaskan kejujuran akan cepat maju dan meningkat, sekaligus sangat efisien... Seandainya kantor pemerintahan dan pelayanan publik di Indonesia dilandaskan oleh kejujuran seperti ini, bukan dilandaskan atas kepentingan pribadi yang berujung kolusi. Terimakasih atas info dan artikel yang menarik ini.

Nama: fajarmcxoem
Waktu: 2010-03-08 11:04:03

mantab......

Komentar: ga aneh kalo jepang bisa disiplin kayak gitu, coba aja liat film ksatria baja hitam, jagoannya mau ngejar musuh pake motor masih sempet pake helem dulu...:) coba di indonesia kalo ada polisi baru pake helem...wajib di contoh tuh.....

Nama: antho
Waktu: 2010-05-18 21:31:58

cool

Komentar: kalo di negara kita ceritanya 180 derajat terbalik dari cerita diatas, ya mudah2an kita bisa sgera mencontoh jepang, dimulai dari diri ssendiri,,, amin

Nama: ali imron
Waktu: 2010-08-23 16:04:57

No Subject

Komentar: Jangan terlalu banyak berkata mudah2an,ga ada gunanya! 5 atau bahkan 10 tahun yg lalu kita orang indonesia berkata semoga bisa menjadi bangsa yg maju,tapi mana buktinya???kerja keras..kerja keras..kerja keras..dan jangan banyak omong,itu kuncinya! doa itu pasti,karena kita orang2 yang beriman. ^_^

Nama: Prams
Waktu: 2010-09-12 15:17:12

No Subject

Komentar: makin pengen ke sana..

Nama: Nia Romadhoni
Waktu: 2010-09-30 12:14:52

dahsyat

Komentar: walaupun orang Jepang tidak beragama.. tapi kebudayaan lah yang membentuk pribadi orang jepang menjadi seperti itu..Disiplin dan Jujur.. SEANDAINYA ALLAH MENURUNKAN HIDAYAHNYA KEPADA WARGA JEPANG.. WOW.. GIMANA JADINYA YA..

Nama: Fendi Indra Wibowo
Waktu: 2010-10-03 10:23:37

Patut di Contoh tuh

Komentar: Hal dan kebiasaan tersebut sudah membudaya, maka kita harus meniru cara kerja mereka... Kenapa tidak untuk budaya yang sekiranya akan membuat negara kita menjadi lebih maju dan berkembang.... Terima kasih.

Nama: Andi
Waktu: 2010-11-03 09:36:48

want it

Komentar: saya jadi ingin ke jepang

Nama: eman
Waktu: 2011-03-19 21:08:17

cara keJepang

Komentar: hmmm, saya jadi semakin ingin pergi ke Jepang entauntuk bekerja, melanjutkan kuliah, atau sekedar berkunjung, semoga saja ada yang berkenan memberi tahu saya bagaimana cara nya untuk ke sana, >.< karena tidak mungkin menunggu hujan duit, hahahahha,,,,

Nama: say it
Waktu: 2011-05-14 15:45:58

BISA!!!

Komentar: suatu saat nanti indonesia bkalan lebih maju dari pada jepang dengan sadr diri akan pentingnya kedsiplinan dan ketekunan.. dann do'a pastinya.. amiennn

Nama: ijan ingin ke jepang
Waktu: 2011-05-29 11:49:33

No Subject

Komentar: kunci ingin seperti negara jepang adalah mulailah disiplin waktu dari diri sendiri, selalu perbaiki kualitas diri dan kurangi menjelek-jelekan bangsa sendiri,

Nama: den
Waktu: 2011-07-18 08:36:54

Perfect!!!Indonesia Bisa?!

Komentar: Perfect bgt!!!Semuanya teratur n disiplin, bisa ga ya diterapin di Indonesia???Jd kpgn nglanjutin studi ke Jepang biar bisa nyicipin kehidupan disana. Jepang emang negeri idamanQ dari dulu....

Nama: Yulies Manies
Waktu: 2011-08-04 12:25:20

Subhanallah

Komentar: Benar benar luar biasa......Allh membuat Jepang dengan begitu indahnya dan Allah membuat Indonseia kita juga indah pemandangannya .. Semoga kita selalu diberikan kekuatan untuk berprasangka baik walaupun rasa iri tidak dapat diingkari

Nama: TOP
Waktu: 2011-09-05 15:22:02

Disiplin itu penting......

Komentar: Semua orang pasti bisa menjalani seperti jepang, hal itu berawal dari kita sendiri yaitu keluarga, sejak kita dilahirkan orang tua kita sudah memberikan pelajaran disiplin sampai kita dewasa kalau hal itu tidak kita sadari mungkin hal itu dipikir hal yang biasa. Semua kembali pada diri kita sendiri mau tantangan atau enak-enakan saja

Nama: Edi soekarjo
Waktu: 2011-10-10 15:20:36

masih jauh

Komentar: indonesia sepeti jepang mungkin hanya impian ..." pemerintahnya aja kebanyakan korupsi kapan bisa maju ... sebagai warga negara indonesia jujur sedih banget.

Nama: fakhri99
Waktu: 2011-10-19 01:21:33

No Subject

Komentar: Kalau kamu mau negara ini mempunyai tingkat disiplin yang sama dengan jepang, mudah saja, dari diri sendiri dulu, jadikan kita itu contoh kesiplinan untuk orang sekitar, jadi jangan iri atau ingin saja, dan mengharapkan Indonesi seperti mereka, kalau diri sendiri tidak mempunyai kedisiplinan, dan puncak ilmu yang harus digali adalah Islam, islam telah mengajarkan itu semua, tapi sayangnya karena banyak orang islam dizaman sekarang yang tidak mengamalkan islam dengan benar, bahkan meninggalkan, maka terasa hilang keindahan Islam, lihatlah islam dari agamanya bukan orangnya, apalagi zaman sekarang, sedikit yang bisa menjadi contoh teladan.

Nama: Pasti Bisa
Waktu: 2012-01-25 12:57:01

Indonesia Bangkit !!!

Komentar: Indonesia pasti bisa,... karena banyak masyarakat yang menpunyai ilmu, kepandaian, semangat, kedisiplinan dan bakat luarbiasa yang bisa melampaui jepang. Karena Indonesia negara Bhineka Tunggal Ika. Semangat dan Bangkit Indonesia !!!

Nama: ulya rabi'ah
Waktu: 2012-02-20 16:36:40

No Subject

Komentar: artikel yang bagus sebagai contoh yang baik untuk orang Indonesia Semoga bisa menjadi pengetahuan yang akan diteladani generasi penerus great work bro http://skaterfm.blogspot.com

Nama: lingka
Waktu: 2012-02-24 21:54:39

briliant !

Komentar: seharusnya bangsa indonesia mencontoh bangas jepang.. Biarpun memang ada sisi kekerasannya, dan keburukan di dlmnya setidaknya Bangsa jepang telah meninggalkan sesuatu yg bermanfaat untuk bangsa kita. Tapi sayangnya bangsa indonesia tidak mau belajar dan megerti. coba saja kalo bangsa indonesia seperti bangsa jepang ?! pasti negara kita akan sebagus dan seindah jepang. tapi kayaknya tidak mungkin.lihat saja orang indonesia yang pemalas,jorok yh kalian pasti tau sendiri. kapan negara kita bisa maju dan menjadi lebih baik ?

Nama: Security services
Waktu: 2012-09-03 13:02:46

wow

Komentar: wahhhh bagus banget ini, coba kalo di indonesia bisa begitu,alangkah tentram dan sejahteranya negara kita ini :) , thanks gan infonya

Nama: motivasi indonesia
Waktu: 2012-09-04 11:45:57

mantaaaaaapppp

Komentar: pantes aja Jepang jadi negara maju. tapi, kita juga bisa kawan. jadikan semua itu motivasi buat kita untuk maju. mulailah dari merubah diri sendiri, dari hal terkecil, dan mulai dari saat ini.. ayo, Indonesia bisa!!

Nama: nourrboy
Waktu: 2012-09-14 18:11:12

Beri komentar baru

Nama:
* Email:
Subject:
* Komentar:
* Security Code:     

Untuk menghindari spam, harap masukan security code yang terlihat pada gambar diatas. Terima kasih

PS: Field dengan * harus diisi, alamat email tidak akan ditampilkan, admin berhak menghapus komentar sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan